Hampir Menyerah (Puisi)

Hampir Menyerah

Malam terasa lebih panjang dari biasanya,
dan pundak ini seakan memikul
gunung yang tak terlihat.

Langkah hamba terasa berat,
pikiran penuh oleh tuntutan
yang datang dari berbagai arah,
seolah tak ada ruang
untuk sekadar menghela napas.

Hamba ingin kuat,
namun hati kadang berbisik pelan—
“cukup sampai di sini saja.”

Sebagai pemimpin
yang seharusnya menjadi tempat berteduh,
hamba justru merasa
seperti pohon yang rapuh di tengah badai.

Banyak harapan diletakkan di pundak ini,
banyak aturan harus dijalankan,
banyak mata menunggu keputusan
yang kadang hamba sendiri ragu.

Satu suara berkata:
pantau setiap sudut sekolah,
jangan duduk nyaman di ruang ber-AC,
jadilah mata bagi setiap sudut halaman.

Maka hamba melangkah di bawah panas,
menyusuri setiap sudut,
mengamati halaman,
memastikan tempat ini tetap aman
bagi anak-anak yang sedang menata masa depan.

Namun di balik langkah itu
ada lelah yang diam-diam bertanya:
apakah semua ini cukup?
apakah usaha ini berarti?

Ya Allah,
jika keputusasaan adalah malam,
maka hamba sedang berada
di tengah gelapnya.

Tetapi di kedalaman hati yang paling sunyi
hamba masih menyimpan satu harap—
bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan
hamba yang sedang berjuang.

Sebab meski langkah ini goyah,
dan hati ini hampir menyerah,
hamba tahu
di setiap kesulitan yang Engkau izinkan
pasti ada kekuatan yang Engkau sembunyikan.

Dan mungkin,
di balik keputusasaan ini,
Engkau sedang menyiapkan
fajar yang belum terlihat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADIKAN MENULIS SEBAGAI PASSION

MENULIS RESUME DI BLOG

Menyusun Bahan Ajar yang Tercerai Berai Menjadi Buku Pelajaran