Menjaga Bahasa dan Menguatkan Pesan melalui Pantun

Judul: Kaidah Pantun: Menjaga Bahasa dan Menguatkan Pesan
Resume ke: 20
Hari/Tanggal: Jumat, 5 Juni 2026
Narasumber: Miftahul Hadi
Moderator: Lely Suryani

Alhamdulillah, pada pertemuan ke-20 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) Gelombang 34, saya kembali memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat. Materi yang disampaikan malam ini membahas tentang kaidah pantun, salah satu warisan budaya bangsa yang memiliki nilai sastra, bahasa, dan sosial yang sangat tinggi. Melalui pemaparan narasumber, saya semakin memahami bahwa pantun bukan hanya rangkaian kata yang indah, tetapi juga sarana untuk menjaga kelestarian bahasa dan menyampaikan pesan dengan cara yang menarik.

Pada awal materi, narasumber menjelaskan bahwa pantun memiliki hubungan yang sangat erat dengan bahasa. Dalam kehidupan masyarakat Melayu dan Indonesia, pantun telah lama digunakan sebagai sarana komunikasi, hiburan, pendidikan, hingga penyampaian nasihat.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah pembahasan mengenai fungsi pantun sebagai pemelihara bahasa. Pantun berperan penting dalam menjaga kekayaan kosakata dan melatih seseorang untuk menggunakan bahasa dengan baik dan tepat. Saat membuat pantun, seseorang harus memilih kata yang sesuai dengan rima dan makna sehingga kemampuan berbahasa akan terus terasah.

Beberapa fungsi pantun sebagai pemelihara bahasa yang saya pahami dari materi ini antara lain:

  1. Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa karena membantu menjaga penggunaan kata-kata yang baik dan melatih alur berpikir secara teratur.
  2. Pantun melatih seseorang untuk memahami makna kata sebelum mengucapkan atau menuliskannya, sehingga pesan yang disampaikan lebih tepat.
  3. Dalam kehidupan sosial, pantun menjadi sarana pergaulan yang efektif karena dapat menciptakan suasana komunikasi yang lebih santun dan menyenangkan.
  4. Pantun menunjukkan kemampuan seseorang dalam berpikir cepat, kreatif, dan memainkan kata-kata secara menarik.
  5. Secara umum, pantun berfungsi sebagai alat yang memperkuat penyampaian pesan sehingga nasihat atau informasi lebih mudah diterima oleh pendengar maupun pembaca.

Dari materi ini saya juga memahami bahwa membuat pantun tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga ketelitian dalam memperhatikan kaidah, seperti jumlah baris, pola rima, serta hubungan antara sampiran dan isi. Dengan memahami kaidah tersebut, pantun akan menjadi lebih bermakna dan enak dinikmati.

Materi malam ini memberikan wawasan baru bagi saya tentang pentingnya pantun dalam kehidupan berbahasa. Pantun bukan sekadar karya sastra tradisional, tetapi juga media pembelajaran yang mampu melatih kreativitas, ketajaman berpikir, dan keterampilan berkomunikasi. Semoga ilmu yang saya peroleh pada pertemuan ini dapat menjadi bekal untuk terus belajar menulis, melestarikan budaya bangsa, serta memanfaatkan pantun sebagai sarana penyampaian pesan yang santun dan bermakna.

Berikut pantun yang coba saya buat sebagai implementasi ilmu yang sudah saya dapat dari narasumber :

Belajar matematika belajar pecahan

Waktu belajar di bulan September

Mata ngantuk bisa di tahan

Asalkan dapat ilmu dari narasumber

==============================

Saat lebaran makan ketupat

Ketupat dimasak di hari Sabtu

Sejatinya Ilmu yang bermanfaat

Tak'kan pernah lekang oleh waktu


Salam Literasi.

ST. Rahmawati ✍️📚

Komentar

Wijaya kusumah mengatakan…
Vakep sekali pantunnya. Semoga kita lebih memahami kaidah pantun budaya bangsa

Postingan populer dari blog ini

MENJADIKAN MENULIS SEBAGAI PASSION

MENULIS RESUME DI BLOG

Publikasi dan Legalitas Karya Tulis