#Sekedar Sharing
Mendengarkan Cerita Kecil, Membangun Kenangan Besar
Di tengah padatnya tugas sebagai Kepala SDN Cibubur 11, ada satu kegiatan sederhana yang selalu saya usahakan untuk dilakukan secara rutin, yaitu menemani peserta didik saat jam istirahat. Bagi sebagian orang, waktu istirahat mungkin hanya dianggap sebagai jeda dari kegiatan belajar. Namun bagi saya, momen tersebut justru menjadi waktu yang sangat berharga untuk lebih dekat dengan anak-anak.
Di bawah rindangnya pepohonan dan suasana sekolah yang asri, saya sering duduk bersama mereka, membentuk lingkaran kecil yang penuh kehangatan. Tidak ada batasan antara kepala sekolah dan murid. Yang ada hanyalah percakapan sederhana yang mengalir apa adanya. Mereka bercerita tentang berbagai hal; mulai dari pelajaran yang baru mereka ikuti, tugas-tugas sekolah yang menurut mereka banyak tetapi tetap menyenangkan, hingga pengalaman mereka di rumah bersama keluarga.
Saya selalu menikmati setiap cerita yang mereka sampaikan. Ada yang bercerita dengan penuh semangat tentang nilai bagus yang diperolehnya. Ada yang dengan bangga menceritakan keberhasilannya membantu orang tua di rumah. Ada pula yang mengeluhkan tugas yang terasa sulit, namun diakhiri dengan tawa ketika teman-temannya memberikan komentar lucu.
Bersama mereka, saya belajar bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang penuh warna. Celotehan mereka terkadang membuat saya tertawa lepas. Kepolosan mereka menghadirkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun di balik keceriaan itu, sesekali saya juga mendengar cerita yang membuat hati tersentuh. Ada anak yang sedang menghadapi kesulitan di rumah, ada yang merasa sedih karena berselisih dengan temannya, dan ada pula yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan perasaannya.
Momen-momen seperti inilah yang semakin meyakinkan saya bahwa tugas seorang kepala sekolah bukan hanya mengelola administrasi dan memastikan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. Lebih dari itu, kepala sekolah juga harus hadir di tengah-tengah peserta didik, mengenal mereka lebih dekat, memahami kebutuhan mereka, serta memberikan ruang bagi mereka untuk merasa didengar dan dihargai.
Kehadiran di tengah anak-anak saat jam istirahat juga menjadi salah satu cara membangun budaya sekolah yang hangat dan ramah anak. Anak-anak merasa memiliki tempat untuk berbagi cerita tanpa rasa takut. Mereka tidak melihat kepala sekolah sebagai sosok yang harus dijauhi, melainkan sebagai orang tua kedua di sekolah yang siap mendengarkan dan memberikan dukungan.
Sebagai seorang pendidik, saya meyakini bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pendidikan juga terjadi melalui interaksi, keteladanan, perhatian, dan kepedulian yang diberikan setiap hari. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah terbangun hubungan yang kuat antara sekolah dan peserta didik.
Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka. Setiap tawa, cerita, dan pengalaman yang mereka bagikan menjadi energi positif yang mengingatkan saya tentang alasan utama memilih dunia pendidikan: membersamai tumbuh kembang anak-anak agar kelak menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan bahagia.
Karena pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah adalah rumah kedua yang seharusnya menghadirkan rasa nyaman, aman, dan penuh kasih sayang bagi setiap anak yang berada di dalamnya.
"Terkadang, perubahan besar dalam pendidikan dimulai dari hal yang sederhana: duduk bersama anak-anak dan mendengarkan cerita mereka." — ST. Rahmawati, Kepala SDN Cibubur 11 🌷
Komentar