Antara Cemas dan Gelak Tawa di tengah laut
Ada perjalanan yang sejak awal tidak pernah masuk dalam daftar mimpi.
Menjelajah lautan lepas dengan sebuah perahu kecil milik nelayan, misalnya.
Jujur, sebelumnya aku tidak pernah membayangkan akan berada di tengah lautan luas hanya dengan menaiki sebuah perahu kecil. Yang terbayang di kepala hanyalah laut yang tak bertepi, ombak yang bisa tiba-tiba meninggi, dan sebuah perahu yang terasa begitu mungil di tengah hamparan air yang luas.
Awalnya semua terasa menyenangkan.
Kami naik ke perahu dengan perasaan penuh antusias. Gelak tawa dan canda mulai terdengar sejak perahu meninggalkan tepian. Kami berfoto, menikmati pemandangan, dan sesekali berteriak kegirangan ketika perahu mulai bergoyang mengikuti irama ombak.
Namun, semakin jauh perahu membawa kami ke tengah laut, perlahan muncul perasaan yang berbeda.
Cemas.
Ketika daratan mulai terlihat semakin jauh dan yang tampak di sekeliling hanyalah birunya laut, tiba-tiba pikiranku mulai ke mana-mana.
"Bagaimana kalau perahu ini terbalik?"
"Bagaimana kalau tiba-tiba datang ombak besar?"
"Kalau sampai jatuh ke laut, bagaimana aku bisa menyelamatkan diri?"
Masalahnya satu.
Aku tidak pandai berenang.
Dan ternyata, berada di tengah laut membuat kekhawatiran-kekhawatiran kecil di kepala terasa jauh lebih besar.
Setiap kali perahu sedikit terombang-ambing, jantung rasanya ikut bergoyang. Ketika ombak datang lebih besar dari sebelumnya, mata spontan mencari-cari tepian. Padahal, tepian itu sudah begitu jauh.
Di tengah luasnya lautan, aku merasa begitu kecil.
Tapi anehnya, rasa takut itu tidak pernah benar-benar berhasil menguasai perjalanan kami.
Sebab di atas perahu kecil itu, ada teman-teman yang justru membuat suasana semakin ramai.
Gelak tawa mereka memecah kecemasan. Canda mereka membuat pikiranku sejenak lupa pada rasa takut. Ada saja tingkah yang mengundang tawa. Ada saja cerita yang membuat kami tertawa bersama.
Kadang aku berpikir, mungkin begitulah persahabatan bekerja.
Bukan selalu menghilangkan rasa takut, tetapi membuat kita tidak terlalu sibuk memikirkannya.
Ketika ombak datang, kami tertawa.
Ketika perahu bergoyang, kami saling berpegangan sambil bercanda.
Ketika melihat luasnya laut, kami sibuk mengabadikan momen.
Dan tanpa terasa, perjalanan yang awalnya membuatku cemas justru berubah menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan.
Hari itu aku belajar sesuatu.
Bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut.
Keberanian adalah ketika kita tetap melangkah, meskipun rasa takut ikut duduk bersama kita di dalam perahu.
Dan mungkin, perjalanan di tengah laut itu bukan sekadar tentang menaklukkan lautan.
Ia adalah tentang menaklukkan kekhawatiran yang terlalu sering kita ciptakan sendiri.
Sebab terkadang, yang paling menakutkan bukanlah ombak yang ada di depan mata, melainkan berbagai kemungkinan buruk yang terus berputar di dalam kepala.
Untungnya hari itu aku tidak sendirian.
Ada teman-teman, ada tawa, ada canda, dan ada kebersamaan yang membuat rasa cemas perlahan tenggelam di antara riuhnya suara kami.
Perahu kecil itu akhirnya membawa kami kembali ke daratan.
Dengan selamat.
Dengan hati yang lega.
Dan tentu saja…
dengan cerita yang jauh lebih besar daripada ukuran perahunya.
Sebuah petualangan singkat di tengah laut, yang mungkin tidak pernah aku rencanakan sebelumnya, tetapi justru menjadi kenangan yang akan selalu membuatku tersenyum.
Karena ternyata, laut tidak hanya mengajarkan tentang luasnya dunia, tetapi juga tentang kecilnya diri kita, besarnya rasa takut, dan betapa berharganya orang-orang yang membuat kita berani melewati semuanya.
Komentar