Ketika Sekolah Berubah Menjadi Lapak Buku
Sebuah Cerita tentang Kerja Bersama, Semangat, dan Tanggung Jawab
Hari ini sekolah kami punya cerita yang sedikit berbeda.
Bukan tentang kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Bukan pula tentang rapat atau kegiatan seremonial. Hari ini, halaman sekolah berubah menjadi semacam lapak buku loakan. Tumpukan buku memenuhi hampir setiap sudut. Ada yang tersusun rapi, ada pula yang masih menggunung menunggu untuk disortir.
Semua berawal dari himbauan Tim Aset Dinas agar buku-buku yang sudah tidak terpakai disortir berdasarkan tahun terbit.
Bagi sebagian orang, mungkin pekerjaan ini terlihat sederhana. Tinggal mengeluarkan buku dari gudang, kemudian mengelompokkannya berdasarkan tahun. Namun kenyataannya, ketika buku-buku yang selama bertahun-tahun tersimpan di dalam gudang mulai dikeluarkan, ternyata jumlahnya tidak sedikit.
Saya pun berinisiatif mengajak teman-teman guru, tenaga kependidikan, mahasiswa PPL, dan dibantu oleh tim PPSU untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Dan dimulailah sebuah cerita tentang gotong royong.
Selama dua hari penuh kami berkutat dengan tumpukan buku. Buku demi buku kami buka, kami lihat tahun terbitnya, kemudian kami kelompokkan. Sesekali kami harus memindahkan tumpukan yang berat, membersihkan debu yang menempel, dan menata kembali buku-buku agar lebih mudah didata.
Di bawah terik matahari pagi hingga petang, peluh membasahi wajah.
Namun anehnya, rasa lelah tidak kami hiraukan.
Ada gelak tawa. Ada canda. Ada cerita-cerita kecil di sela-sela pekerjaan. Kebersamaan membuat pekerjaan yang sebenarnya melelahkan menjadi terasa lebih ringan.
Saya kembali diingatkan bahwa membangun sekolah bukan hanya tentang program besar dan kegiatan yang terlihat hebat. Ada banyak pekerjaan sederhana yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi justru menjadi bagian penting dari tertibnya pengelolaan sekolah.
Hari ini kami belajar bahwa tanggung jawab tidak selalu hadir dalam bentuk pekerjaan yang bergengsi.
Kadang ia hadir dalam bentuk debu gudang, tumpukan buku, keringat, dan tangan-tangan yang mau bekerja.
Dan sebagai kepala sekolah, saya percaya bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberi instruksi.
Kepemimpinan adalah tentang hadir, ikut bergerak, dan membersamai teman-teman yang sedang bekerja.
Saya ingin teman-teman melihat bahwa ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tidak ada istilah “itu bukan pekerjaan saya.” Selama semuanya untuk kepentingan sekolah, mari kita kerjakan bersama.
Hari ini mungkin sekolah kami terlihat seperti pasar buku loakan.
Tetapi di balik tumpukan buku itu, saya melihat sesuatu yang jauh lebih berharga: semangat kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong.
Dua hari berlalu.
Akhirnya, seluruh buku berhasil kami sortir berdasarkan tahun terbit dan ditata kembali dengan lebih rapi.
Lelah? Tentu.
Tetapi ada kepuasan tersendiri ketika melihat pekerjaan yang semula tampak begitu berat akhirnya dapat diselesaikan bersama.
Karena sekolah yang hebat bukan hanya dibangun dengan fasilitas yang lengkap, tetapi juga dengan orang-orang yang mau bergerak bersama.
Hari ini kami tidak hanya menyortir buku.
Kami sedang merapikan satu bagian dari rumah besar bernama sekolah.
Dan dari tumpukan buku-buku lama itu, kami menemukan kembali satu pelajaran yang tidak pernah usang:
Kerja sama, ketulusan, dan semangat gotong royong akan selalu menjadi kekuatan yang membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan.
#KepemimpinanKepalaSekolah
#GotongRoyong
#BudayaKerja
#SekolahBergerak
#KepemimpinanYangMembersamai
#SDNCibubur11
Komentar