Perempuan yang Mencintai Bunga (PUISI)


Seperti bunga lantana yang merekah,
dengan merah yang menyimpan rasa,
jingga yang memeluk bahagia,
dan kuning yang menyalakan harapan,
begitulah hatiku—
sederhana, tetapi penuh warna.

Aku mencintai bunga,
bukan karena ia harus sempurna,
bukan pula karena warnanya harus sama.
Aku menyukainya karena setiap kelopak
datang membawa cerita,
tentang kehidupan yang tetap indah
meski tumbuh di antara kerasnya dunia.

Bagiku, bunga adalah bahasa hati.
Ia tak banyak bicara,
namun mampu membuat mata tersenyum.
Ia tak pernah meminta untuk dikagumi,
namun selalu berhasil menghadirkan
rasa suka cita bagi siapa saja
yang mau berhenti sejenak untuk memandangnya.

Mungkin begitulah aku sebagai perempuan—
yang diam-diam menyimpan banyak rasa,
yang mudah jatuh cinta pada keindahan,
yang bahagia hanya karena melihat
sesuatu yang sederhana tumbuh dan merekah.

Jika suatu hari kau bertanya
seperti apa hatiku,
jangan mencarinya pada kata-kata.

Lihatlah bunga lantana itu…

Ada merah untuk cinta,
jingga untuk kehangatan,
kuning untuk harapan,
dan hijau untuk kehidupan.

Sebab aku percaya,
perempuan yang mencintai bunga
bukan sekadar mencintai keindahan.

Ia sedang belajar mencintai kehidupan—
menerima setiap warna,
menikmati setiap musim,
dan tetap memilih untuk mekar,
meski pernah terluka oleh
tangan-tangan yang tak mengerti
betapa berharganya sebuah bunga.

Dan mungkin,
itulah alasan aku begitu menyukai bunga.

Karena di dalam setiap mekarnya,
aku menemukan pengingat sederhana:
bahwa kebahagiaan tak selalu datang
dalam sesuatu yang besar.

Kadang ia hadir
dalam secangkir pagi yang tenang,
dalam tawa orang-orang tersayang,
dalam rumah yang menjadi tempat pulang,
atau sekadar dalam sepetak taman
yang dipenuhi bunga-bunga kecil.

Aku hanya ingin terus menikmati
warna-warni kehidupan,
seperti lantana yang tak pernah sibuk
memilih warna mana yang paling indah.

Ia cukup tumbuh,
cukup mekar,
dan cukup menjadi dirinya sendiri.

Begitu pula aku.

Menjalani hari dengan hati yang penuh,
mensyukuri apa yang telah dimiliki,
dan menemukan kebahagiaan
dari hal-hal sederhana
yang sering kali luput dari pandangan.

Sebab bagiku,
hidup akan selalu terasa indah
ketika hati masih mampu berkata:

"Lihatlah…
betapa banyak bunga yang Tuhan tumbuhkan
untuk membuat dunia ini
tetap penuh warna."

Jakarta, 27 Agust 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tangis Haru Warnai Perpisahan Mahasiswa PPL STKIP Kusumanegara di SDN Cibubur 11

#Sekedar Sharing

Kolaborasi SDN Cibubur 11 dan PPSU: Wujud Nyata Sekolah Berkualitas, Bersih, dan Berkarakter