Abu Vulkanik Menjadi Pengingat: "Keselamatan Anak Adalah Kebijakan Utama"
Abu Vulkanik Menjadi Pengingat: "Keselamatan Anak Adalah Kebijakan Utama"
Oleh: ST. Rahmawati, S.Pd.
Kepala SDN Cibubur 11 Pagi, Jakarta Timur
Informasi mengenai aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang mulai mencapai sejumlah wilayah, termasuk kawasan Jabodetabek dan Jakarta, menjadi perhatian serius.
Di balik butiran debu yang begitu kecil, ada kesehatan anak-anak yang harus kami lindungi.
Ada mata yang mungkin mengalami iritasi. Ada saluran pernapasan yang mungkin terganggu. Ada anak-anak yang memiliki kondisi tubuh berbeda-beda dan lebih rentan terhadap paparan udara yang tidak sehat.
Surat Edaran Dinas Menjadi Dasar Kami Bertindak
Pada 6 September 2026, Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta menerbitkan Surat Edaran Nomor 91/SE/2026 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Abu Vulkanik.
Surat edaran tersebut pada prinsipnya mengingatkan satuan pendidikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan abu vulkanik serta menjaga keselamatan dan kesehatan warga sekolah.
Salah satu arahan penting dalam surat tersebut adalah agar satuan pendidikan dapat melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Dinas Pendidikan juga mengarahkan agar kepala satuan pendidikan melakukan pendampingan dan pemantauan terhadap proses pembelajaran serta menyediakan alternatif apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan PJJ.
Surat edaran itu adalah pedoman untuk mengambil keputusan.
Maka setelah mencermati situasi dan mempertimbangkan keselamatan peserta didik, kami memutuskan bahwa SDN Cibubur 11 Pagi akan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh mulai Senin, 7 September 2026 sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut.
Saya memahami bahwa perubahan pembelajaran dari tatap muka menjadi PJJ tentu membawa konsekuensi.
Guru harus kembali menyesuaikan metode pembelajaran.
Orang tua harus memberikan pendampingan lebih kepada putra-putrinya.
Peserta didik harus belajar lebih mandiri.
Bahkan bagi sebagian keluarga, PJJ mungkin menghadirkan tantangan tersendiri.
Namun saya selalu percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyelesaikan materi pelajaran. Pendidikan juga tentang mengajarkan kepada anak bagaimana kita mengambil keputusan ketika menghadapi sebuah risiko.
Hari ini anak-anak mungkin tidak duduk di bangku sekolah.
Mereka belajar dari rumah.
Tetapi sesungguhnya mereka sedang belajar sesuatu yang jauh lebih besar:
bahwa keselamatan harus menjadi prioritas, bahwa kita harus peduli terhadap lingkungan, dan bahwa kita harus memilih untuk berhenti sejenak demi kebaikan bersama.
Melalui surat pemberitahuan kepada orang tua/wali murid, kami menyampaikan beberapa ketentuan selama pelaksanaan PJJ.
Peserta didik diharapkan mengikuti pembelajaran sesuai arahan dan jadwal yang disampaikan oleh wali kelas atau guru, mengikuti kegiatan dengan tertib dan bertanggung jawab, mengerjakan tugas yang diberikan, serta melaporkan atau mengumpulkan tugas sesuai waktu yang ditentukan.
Kami juga meminta anak-anak tetap menjaga komunikasi dengan wali kelas apabila mengalami kendala selama mengikuti pembelajaran.
Tidak kalah penting, kami mengajak Bapak/Ibu orang tua/wali murid untuk bersama-sama memberikan pendampingan kepada anak selama PJJ.
Sebab keberhasilan PJJ bukan hanya tanggung jawab guru.
PJJ adalah kerja bersama antara sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik.
Guru mengajar.
Orang tua mendampingi.
Anak belajar.
Sekolah memastikan semuanya berjalan.
Dalam situasi seperti ini, ada beberapa kegiatan yang untuk sementara harus kita sesuaikan.
Salah satunya adalah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang untuk sementara ditiadakan selama PJJ berlangsung.
Kesehatan dan pemenuhan gizi anak tetap penting. Tetapi dalam kondisi tertentu, kita harus menempatkan keselamatan sebagai pertimbangan pertama.
Keputusan PJJ bukanlah keputusan untuk membuat sekolah menjadi pasif.
Sebaliknya, keputusan ini merupakan bentuk tanggung jawab sekolah dalam menyesuaikan layanan pendidikan dengan kondisi yang sedang terjadi.
Guru Tetap Menjadi Garda Terdepan
Saya juga menyadari bahwa di balik PJJ terdapat kerja keras para guru. Ketika anak-anak belajar dari rumah, guru tidak serta-merta menjadi lebih santai. Justru guru harus lebih kreatif.
Bagaimana materi disampaikan?
Bagaimana memastikan anak mengikuti pembelajaran?
Bagaimana memberikan tugas yang tidak membebani?
Bagaimana memantau kehadiran?
Bagaimana membantu anak yang mengalami kendala?
Bagaimana menjaga komunikasi dengan orang tua?
Semua itu membutuhkan energi, kesabaran, dan kolaborasi.
Karena itu, saya mengajak seluruh guru SDN Cibubur 11 untuk menjalankan PJJ dengan penuh tanggung jawab.
Untuk Orang Tua: Sekolah Memerlukan Dukungan Bapak dan Ibu
Kepada Bapak dan Ibu orang tua/wali murid, saya juga ingin menyampaikan bahwa kegiatan PJJ ini bukan berarti sekolah menyerahkan seluruh tanggung jawab pembelajaran kepada keluarga. Kami memahami bahwa Bapak dan Ibu juga memiliki kesibukan masing-masing. Namun dalam situasi seperti ini, dukungan sederhana dari rumah sangat berarti bagi anak.
Mengingatkan anak mengikuti pembelajaran. Membantu ketika mengalami kesulitan. Memastikan tugas dikerjakan. Dan yang paling penting, mengingatkan anak agar tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi paparan abu vulkanik masih berlangsung.
Mari kita lindungi anak-anak kita bersama-sama. Mereka adalah alasan mengapa sekolah berdiri. Mereka adalah alasan mengapa guru terus mengajar.
Hari Senin ini, ruang-ruang kelas mungkin tidak dipenuhi suara riuh anak-anak.
Tidak ada langkah kaki yang berlarian di halaman. Tidak ada sapaan anak-anak ketika memasuki gerbang sekolah. Namun saya percaya, sekolah tetap hidup. Pembelajaran tetap berjalan. Guru tetap mengabdi. Anak-anak tetap belajar.
Semoga kondisi ini segera berlalu.
Semoga abu vulkanik segera mereda.
Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.
Pendidikan memang harus terus berjalan. Tetapi keselamatan anak-anak adalah yang utama.
#SDNCibubur11
#PJJ
#KeselamatanAnakPrioritas
#SekolahPeduli
#PendidikanUntukAnak
Komentar